Pembelajaran Inovatif dalam Mengurangi Miskonsepsi dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berdiferensiasi hasil atau produk 

Penulis : Rini Shoffa Aulia, S.Si

Pembelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu bagaimana alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip-prinsip saja namun juga merupakan proses penemuan. Di abad 21 ini, peserta didik harus mampu mengembangkan pengetahuan dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Didalam suatu kegiatan pembelajaran sering kali terdapat berbagai macam hambatan yang membuat kegiatan belajar mengajar menjadi terganggu. Hambatan yang sering terjadi pada mata pelajaran IPA yaitu konsep-konsep yang disampaikan oleh guru tidak dapat diterima oleh peserta didik dengan baik atau sering disebut miskonsepsi. Miskonsepsi yang sering terjadi pada kelas 7 hampir disetiap kelas yaitu materi perpindahan kalor. Peserta didik belum mampu membedakan konsep konduksi, konveksi dan radiasi dengan benar. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut penulis ingin memberikan treatment pembelajaran inovatif yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan mengaplikasikan pembelajaran diferensiasi produk atau hasil pada Kurikulum Merdeka. 

Tantangan yang dihadapidari hasil eksplorasi penyebab masalah pada praktik ini adalah : 1) Guru tidak mengaitkan materi pembelajaran dengan konsep kehidupan sehari-hari (tidak kontekstual); 2) Peserta didik merasa sulit membedakan perpindahan kalor, hanya bisa menghafalkan secara lisan tidak dipahami dengan baik; 3) Penggunaan media dan  model pembelajaran yang kurang tepat dan kurang bervariatif. 

Bagaimana penerapan pembelajaran inovatif menggunakan model PBL?

Berikut adalah sintak pembelajaran PBL :

1) Orientasi peserta didik pada masalah. Pada tahap ini penulis menayangkan video pembelajaran yang dibuat sendiri mengenai seseorang yang sedang memasak kemudian tangannya mengenai wajan panas. Lalu peserta didik diberi stimulus pertanyaan pemantik yang mengarah pada kegiatan yang akan dilakukan. Pertanyaan pemantik : “Mengapa pegangan wajan panas padahal api berada dibawah wajan?”.